majapahit7.1Kebesaran Kerajaan Majapahit memang tidak diragukan lagi, bahkan tak sedikit menyita perhatian luar negeri, salah satunya adalah Stevan, wisatawan asal Amerika, “Saya sangat bangga dan kagum tentang peninggalan kerajaan Majapahit” katanya saat di temui di Pusat Informasi Majapahit.
Menurut Kuswanto, Arkeolog Pusat Informasi Majapahit bahwa berdasarkan beberapa versi, Trowulan merupakan ibukota kerajaan Majapahit. Hal ini didukung dari banyaknya penemuan-penemuan yang ada di Trowulan.
Jika kita berkunjung ke kota Mojokerto, maka kita akan menemukan beberapa bangunan peninggalan kerajaan Majapahit. Bangunan-bangunan tersebut antara lain adalah:
Candi Brahu
7.4Menurut Kuswanto, ada sebagian ahli yang berpendapat bahwa candi ini lebih tua dari candi-candi lain di Trowulan. Hal ini dihubungkan dengan penemuan prasasti Alasantan yang ditulis Mpu Sendok pada tahun 939 M yang tak jauh dari candi Brahu. Di dalamnya menyebut sebuah bangunan bernama Warahu.
Candi Brahu merupakan tempat pembakaran / penyimpanan abu jenazah raja-raja Majapahit. ”Kata bra (sebutan raja Majapahit) dan hu dari kata ahu yang bermakna abu” imbuh Kuswanto.
Candi Brahu terletak di Bejijong, Trowulan, Mojokerto. Candi Brahu terbuat dari batu bata menghadap ke arah Barat. Denahnya berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 18 x 22.50 meter dan tinggi yang tersisa sampai sekarang 20 meter. Kegagahan candi Brahu semakin eksotik dengan adanya taman yang ada disekitar bangunan.
Candi Wringin Lawang
7.3Terletak di dukuh Wringin Lawang, desa Jatipasar, Trowulan Mojokerto.  dinamakan Wringin Lawang Konon dulu dekat candi terdapat pohon beringin yang besar.
Wringinlawang merupakan candi bentar, yaitu gapura tanpa atap. Candi bentar yang berfungsi sebagai gerbang terluar dari suatu kompleks bangunan. Menilik bentuknya, Gapura Wringinlawang diduga merupakan gapura menuju salah satu kompleks bangunan yang berada di kota Majapahit. Masih menurut Kuswanto, beberapa ahli berdasarkan kajian kitab-kitab Majapahit dan penggalian observasi, menduga bangunan ini merupakan pintu masuk menuju kediaman Patih Gajah Mada.
Gapura Wringin Lawang telah mengalami pemugaran pada tahun 1991 sampai dengan tahun 1995. Keseluruhan bangunan yang menghadap Timur-Barat ini terbuat dari bata merah. Fondasi gapura berbentuk segi empat dengan ukuran 13 x 11,50 m. Sebelum dipugar belahan Selatan gapura masih utuh, berdiri tegak dengan ketinggian 15,50 m.
Candi Bajang Ratu
7.8Terletak di dukuh Kraton, Desa Temon, Trowulan Mojokerto. Candi ini merupakan bangunan pintu gerbang tipe “padukraksa”, yaitu gapura yang memiliki atap, bahan utamanya adalah batu bata kecuali lantai tangga serta ambang pintu yang dibuat dari batu adesit. Denah bangunan ini berbentuk segi empat berukuran 11,5 x 10,5 meter. tingginya 16,5 meter dan lebar lorong pintu masuk 1.40 m.
Para ahli menghubungkan candi Bajang Ratu dengan raja Jayanegara. Karena dilihat dari namanya Bajang yang berarti bujang/masih muda dan Ratu adalah raja. Sebagaimana diketahui, raja Jayanegara ketika diangkat menjadi raja sampai ajal menjemput, beliau masih bujang dan belum memiliki permaisuri.
Mengunjungi candi Bajang Ratu terasa menyejukkan, karena disekitar bangunan terdapat taman yang luas dengan aneka macam tanaman hias. Sehingga betah untuk berlama-lama ditempat ini.
Candi Tikus
7.7Candi Tikus terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Trowulan, Mojokerto. Letaknya sekitar 600 meter dari candi Bajang Ratu.
Konon, nama Candi Tikus diberikan lantaran ketika dilakukan pembongkaran pada tahun 1914, oleh Bupati Mojokerto R A A Kromojoyo Adinegoro, disekitar candi itu pernah menjadi sarang tikus, dan hama tikus ini menyerang area pertanian disekitarnya. Warga melakukan pengejaran terhadap tikus, ternyata tikus-tikus tersebut masuk ke sebuah gundukan tanah. Setelah dibongkar, ternyata ditemukan sebuah bangunan yang terbuat dari bata merah dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m.
Di tengah Candi Tikus terdapat miniatur empat buah candi kecil yang dianggap melambangkan Gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam dan sumber segala kehidupan yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran-pancuran/jaladwara yang terdapat di sepanjang kaki candi. Air ini dianggap sebagai air suci amerta, yaitu sumber segala kehidupan.
Rasanya tak ingin beranjak pergi ketika berada di candi Tikus, sebab disekeliling candi terdapat taman yang luas dengan aneka macam tanaman hias, sehingga bisa mengurangi rasa penat.
Kolam Segaran
7.9Kolam Segaran terletak di Desa Trowulan Kabupaten Mojokerto, tepatnya 500 meter ke arah selatan dari Jalan Raya Mojokerto-Jombang.
Kolam Segaran, pertama kali ditemukan oleh Mac Lain Pont pada tahun 1926. kolam ini memiliki panjang 375 meter, lebar 175 meter, tebal tepian 160 cm.
Konon kolam segaran ini merupakan tempat yang digunakan kerajaan untuk menjamu tamu dari luar negeri. Sang raja menyuguhkan hidangan dengan perkakas dari emas, mulai nampan, piring sampai sendok. Setelah pesta usai, sebelum para tamu pulang, Hayam Wuruk ingin memperlihatkan kekayaan kerajaan yang terkenal sebagai negeri ”gemah ripah loh jinawi”. Semua perkakas dari emas tersebut dilemparkan ke Kolam Segaran.
Maha Vihara
7.5Maha Vihara Mojopahit terletak di desa Bejijong, Trowulan Mojokerto. Tempat ini dibangun oleh biku Wiryanadi Mahatera yang diresmikan pada 31 Desember 1989. ”Selain untuk kegiatan agama Budha, juga untuk uri-uri (melestarikan, red) kebudayaan Majapahit yang beragama Hindu – Budha”, tutur Saryono, pandita Maha Vihara.
Maha Vihara memiliki tiga Altar pemujaan, yaitu untuk mazhab Hinayana, Mahayana dan Tantrayana (Buddha Sakyamuni, Avalokitesvara Kwan Se Im Phosat, Dewi Tara ) didalam satu Bhaktisala. Di belakang Bhaktisala juga ada altar Maha Brahma / She Mien Fuk
Didalam area Maha Vihara terdapat sebuah patung Sleeping Buddha yang monumental dengan ukuran panjang 22 m, lebar 6 m dan tinggi 4,5 m, merupakan terbesar di Indonesia (masuk MURI tahun 2001) dan terbesar ketiga di dunia setelah Thailand dan Nepal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here