Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan,” demikianlah yang dinyatakan Tuhan Yesus Kristus dalam Injil Yohanes 10:10b. Kalimat nan indah dan penuh makna yang keluar dari mulut Sang Juruselamat manusia itu cukuplah menjadi pijakan, selama kita hidup di dunia ini. Hal itu dinyatakan-Nya begitu sangat aktual dan kontekstual, apalagi menghadapi situasi dan kondisi seperti sekarang ini.
Natal itu ‘Tuhan datang’ untuk menawarkan hidup yang lebih baik kepada setiap manusia. Dia merindukan dan mencari umat manusia yang berdosa, dengan harapan agar manusia itu kembali menjadi milik-Nya.

Natal01
Namun walau peringatan natal itu sudah ratusan tahun dilakukan, kenyataannya masih banyak orang yang belum merespon dan menanggapi tawaran-Nya. Apakah kita diantaranya? Tidak ada yang tahu, hanya diri kita dan Tuhan yang mengetahuinya.
Namun setidaknya natal kali ini mesti kita jadikan berbeda dengan sebelumnya. Pohon natal beserta pernak perniknya bolehlah ada, berbagi kado dan mengadakan pesta sah-sah saja, namun perlulah mawas diri, sebab oleh berbagai alasan tidak semua umat Kristen bisa menikmatinya.
Bumi semakin tua, cuaca kian tak tentu, bencana dimana-mana, ribuan bahkan jutaan jiwa kehilangan tempat tinggal dan sanak keluarga. Tidak sedikit yang kehilangan pengharapan dan masa depan.  Kecewa dan  putus asa pun membelenggu dan menghantui hidup manusia.
Belum lagi badai krisis keuangan yang enggan mereda. Hutang tak terbayar, usaha mulai bangkrut, pengangguran dimana-mana, segala upaya seperti menjaring angin dan menguras samudera. Tangisan bayi dan anak-anak yang sedang  kelaparan  menjadi bagian irama alam yang penuh nista.
Ditengah-tengah kekhawatiran dan kegalauan manusia, Yesus Kristus datang untuk memberikan hidup yang berpengharapan. Dia adalah Immanuel yaitu Allah yang berserta dan hadir secara nyata ditengah-tengah umat-Nya. Dia penuh kasih sayang dan perhatian. Dia adalah Allah yang bekerja, tidak bisa berdiam diri melihat orang-orang yang menderita, tidak bisa tenang dengan anak-anak yang kelaparan, tidak pernah puas hanya menyembuhkan orang sakit dan mentahirkan orang kusta. Orang yang buta pun disembuhkannya, orang yang lumpuh pun ditolongnya, bahkan orang yang mati pun sanggup dibangkitkanNya. Natal bermakna, Tuhan sanggup memberikan kelimpahan. Namun bukan untuk berfoya-foya atau berpesta ria untuk nafsu manusia. Melainkan untuk berbagi kasih satu dengan yang lainnya, sebagaimana Allah telah mengasihi kita.
Tidak ada orang kaya ataupun miskin yang dibedakan, semua sama dihadapan-Nya. Sebab Dia datang untuk siapa saja, baik dari kutub utara atau  kutub selatan, mulai dari gurun sahara hingga mereka yang tinggal dikepulauan kecil ditengah samudera.
Peristiwa natal itu sendiri penuh dengan kesederhanaan. Rasul Paulus pernah berkata, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” (I Timotius  6:8). Karena itu natal adalah moment bagi kita untuk lebih mengucap syukur atas segala kebaikkan-Nya.  Apapun keadaan kita hari ini, mengucap syukurlah! Kalaulah tubuh kita dalam keadaan lemah ataupun sakit, percayalah! Tuhan yang berlimpah kasih karunia sanggup menyembuhkan.
Kalaulah kita dalam kekurangan, berbahagialah sebab Tuhan sudah tawarkan kelimpahan, itu artinya hidup kita di dalam jaminan-Nya. Dia mahakuasa, sanggup mengadakan dari tidak ada menjadi ada. Masa depan kita pasti penuh dengan pengharapan, hanya yang ditunggu Tuhan adalah hati yang terbuka kepada tawaran kasih-Nya. [aw]
oleh : Pdm . Anang Wicaksono, S.Th

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here