Quo Vadis Komite Sekolah

Ada harapan cerah dari pemerintah dalam hal pengkomunikasian antara pihak sekolah, orangtua, dan masyarakat dalam mendukung terlaksananya tujuan pendidikan. Melalui Keputusan Mendiknas Nomor 44/U/2002 tanggal 2 April 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, dijelaskan Komite Sekolah adalah mitra sekolah. Ya, Komite Sekolah-lah yang sebenarnya memiliki harapan cerah sebagai penggerak sentral komunikasi yang sinergis antara sekolah, orangtua, dan masyarakat.
Komite Sekolah diharapkan bekerjasama dengan kepala sekolah sebagai partner untuk mengembangkan kualitas sekolah dengan menggunakan konsep manajemen berbasis sekolah dan masyarakat yang demokratis, transparan, dan akuntabel. Peran lain yang diamanahkan kepada Komite Sekolah dalam peningkatan kualitas pelayanan pendidikan melalui, melalui nasihat; pengarahan; bantuan personalia, material, dan fasilitas, maupun pengawasan pendidikan.
Tugas komite sekolah pada dasarnya mempunyai empat peran dimana peran tersebut adalah, memberikan pertimbangan, memberikan dukungan, melakukan pengawasan dan menjadi mediator antara masyarakat dan pemerintah. Peran tersebut pada dasarnya sudah banyak dilakukan oleh pengurus Komite Sekolah, namun belum optimal.
Banyak hal yang menjadi penyebab belum optimalnya amanah Komite Sekolah. Di antaranya, masih belum respeknya masyarakat (dan wali murid?) terhadap keberadaannya. Hal ini bisa jadi dipengaruhi oleh keberadaannya yang kurang tersosialisasikan dengan baik. Selain itu, bisa pula diakibatkan pula pemahaman masyarakat yang acuh terhadap keberadaannya. Faktor ini tampaknya dipengaruhi oleh pola pikir konsumeristik di bidang pendidikan. Kebanyakan menganggap sekolah sebagai lembaga jasa dan masyarakat sebagai konsumen. Sekolah jual lulusan, masyarakat membayar. Selesai. Ironis bukan?
Di sisi lain banyak komite belum mampu menjalankan fungsi manajemen organisasi dengan baik, inisiatif rendah, ketergantungan kepada sekolah masih tinggi, termasuk menganggap tidak penting adanya AD/ART bagi sebuah komite sekolah yang berakhir dengan hasil kurang memuaskan setelah mereka kembali ke sekolah masing-masing. Hal ini lebih berkaitan dengan kualitas sumber daya manusianya.
Kini, sudah saatnya pola pikir sekolah sebagai “jasa laundry”didekonstruksi. Sekolah adalah sebuah kawah candradimuka generasi masa depan bangsa. Untuk melahirkan generasi terbaik di masa depan, sudah seharusnya pemerintah, pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat, bekerjasama secara sinergis sesuai langgam-nya masing-masing. Semuanya memiliki tanggungjawab, demi masa depan bangsa.

oleh: HM. Izzat Abidy, Pengurus Dewan Pendidikan Kota Surabaya

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

Copyright © 2015 Flex Mag Theme. Theme by MVP Themes, powered by Wordpress.

To Top