visitBumi Angling Dharma sebutan kota Bojonegoro selain memiliki wisata Kayangan Api (sebuah sumber api tak kunjung padam yang terletak pada kawasan hutan lindung di Desa Sendangharjo Kecamatan Ngasem), juga memiliki sebuah tempat yang sangat cocok untuk wisata edukasi bagi mereka yang ingin mengetahui secara langsung bagaimana proses penambangan dan pengolahan minyak secara tradisional.
tambang Penambangan Minyak Tradisional terletak di sebelah Barat Kota Bojonegoro tepatnya di desa Wonocolo Kecamatan Kedewan. Kawasan bebukitan yang dikepung hutan Jati. Untuk bisa ke tempat wisata ini, wisatawan tak perlu bingung karena akses menuju lokasi sudah memadai. Namun lebih baik perjalanan dilakukan saat musim kemarau, hal ini untuk menghindari jalan yang licin. “Pada musim kemarau biasanya banyak yang datang kesini, bahkan ada beberapa mahasiswa yang menginap dengan mendirikan tenda disini”, tutur Rusmanto, salah seorang penambang tradisional.
Selama perjalanan dari Kecamatan Kedewan mata akan dimanjakan dengan pepohonan dikanan kiri jalan yang berliku-liku dan ditemani udara yang sejuk. Begitu mendekati lokasi penambangan, terdengar suara mesin menderu di antara pepohonan jati. Di antara pepohonan terlihat beberapa batang kayu berukuran sedada dibentuk sedemikian rupa menyerupai tiang tenda atau segitiga. Itulah suasana yang terlihat ketika Tim Iklan Pos mengunjungi lokasi penambangan tradisional.

tambang1
Rusmanto menambahkan bahwa di daerah tersebut terdapat kurang lebih 300 titik sumur yang merupakan peninggalan pemerintah kolonial Belanda. Jarak antara satu sumur dengan sumur lainnya saling berdekatan.
Semenjak ditinggalkan Belanda masyarakat membukanya kembali dengan cara amat tradisional yang mereka pelajari secara otodidak. Mereka biasanya bekerja secara berkelompok yang kemudian hasilnya dibagi rata. Mbah Ramijan, tokoh masyarakat setempat menceritakan, bahwa pada tahun 1945 penambangan minyak di daerah setempat dikelola oleh pemerintah daerah, kemudian pada tahun 1988 – 2006 dikelola oleh KUD dan semenjak 2006 sampai sekarang tidak ada yang mengelola alias liar.
Sejak matahari menampakkan sinarnya sampai matahari terbenam, para penambang melakukan aktivitasnya dengan mengangkat minyak mentah atau yang biasa disebut lanthung dari sumur tua yang mempunyai kedalaman hingga ratusan meter yang memanfaatkan mesin diesel (mesin mobil) dengan bantuan tali baja atau slink. Minyak mentah yang berhasil diangkat kemudian dialirkan ke tempat penampungan untuk menjalani proses pemisahan dari campuran air yang ikut terangkat. Setelah terpisah dari air, kemudian minyak mentah tersebut dialirkan ke penampungan selanjutnya untuk kemudian disuling menjadi solar, minyak, limbah, dan kokas. “Dalam sehari secara keseluruhan bisa menghasilkan minyak jadi kurang lebih sebanyak 5000 liter”, imbuh Rusmanto.
Meski tidak sesempurna produksi industri migas (modern), namun minyak hasil sulingan warga desa tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar mesin diesel maupun minyak tanah. Bahkan, meski tak banyak kadang juga menjadi bensin.
Minyak hasil penambangan biasanya dijual kepada pelanggan, tengkulak maupun pengepul. Bahkan ada pula yang membelinya kemudian diproses ulang untuk menghasilkan minyak yang berkualitas lebih bagus atau sama dengan minyak hasil pengolahan industri migas.
Sayang sekali lokasi penambangan minyak tradisional tersebut belum dikelola dengan baik dan rapi. Jika lokasi tersebut ditata dan dikelola dengan maksimal, tentunya akan menjadi objek wisata edukasi yang menarik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here